KUTORA.ID, PARIGI MOUTONG – Kawasan Eks Jembatan Timbang Toboli, Kecamatan Parigi Utara, kembali dipadati ribuan pengunjung dalam gelaran Festival Kuliner Lalampa Toboli Ke-9 yang berlangsung pada Sabtu 7 Juni 2026. Perhelatan tahunan tersebut menjadi ajang promosi budaya sekaligus wadah pemberdayaan pelaku usaha lokal yang selama ini menjadikan Lalampa sebagai salah satu ikon kuliner khas Kabupaten Parigi Moutong.
Mengusung tema “Wujud Pelestarian Budaya dan Penguatan Ekonomi Masyarakat”, festival tahun ini menghadirkan berbagai kegiatan yang memadukan unsur tradisi, ekonomi kreatif, dan kebersamaan masyarakat. Kehadiran Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, bersama Ketua TP-PKK Provinsi Sulawesi Tengah, Sry Nirwanti Bahasoan, menambah semarak acara yang juga dihadiri Bupati Parigi Moutong H. Erwin Burase, Wakil Bupati, Ketua TP-PKK Kabupaten, unsur Forkopimda, serta para pelaku UMKM.
Dalam sambutannya, Bupati Parigi Moutong H. Erwin Burase menyampaikan bahwa Festival Lalampa Toboli telah berkembang menjadi agenda penting daerah yang tidak hanya mempertahankan warisan budaya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Festival ini bukan sekadar perayaan kuliner, tetapi menjadi bentuk nyata upaya kita menjaga identitas budaya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Lalampa Toboli telah menjadi kebanggaan daerah yang patut terus kita promosikan,” ujar Erwin Burase.
Menurutnya, konsistensi pelaksanaan festival hingga memasuki tahun kesembilan menunjukkan kuatnya komitmen masyarakat dan pemerintah dalam menjaga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
“Kami berharap festival ini terus berkembang dan mampu menjadi daya tarik wisata unggulan yang memberikan manfaat langsung bagi pelaku usaha kecil, masyarakat, dan daerah secara keseluruhan,” tambahnya.
Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid memberikan apresiasi atas keberhasilan masyarakat Toboli dalam mempertahankan tradisi lokal dan menjadikannya sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
“Apa yang dilakukan masyarakat Toboli merupakan contoh yang sangat baik. Tradisi yang dirawat dengan baik tidak hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi dan membuka peluang usaha bagi masyarakat,” kata Anwar Hafid.
Ia juga mendorong para pelaku UMKM agar terus meningkatkan kualitas produk serta memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pemasaran.
“Kita harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Produk lokal yang berkualitas harus dipasarkan lebih luas melalui platform digital tanpa menghilangkan cita rasa dan keaslian yang menjadi ciri khasnya,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Gubernur turut merespons usulan masyarakat terkait pemanfaatan kawasan Eks Jembatan Timbang Toboli sebagai pusat aktivitas ekonomi dan rest area bagi pengguna jalan lintas Sulawesi.
“Lokasi ini sangat strategis. Pemerintah Provinsi siap berkoordinasi dan bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong untuk mengupayakan pemanfaatannya sehingga dapat menjadi rest area yang representatif sekaligus pusat promosi produk unggulan daerah,” ungkapnya.
Kemeriahan festival semakin terasa ketika Gubernur Sulawesi Tengah dan Bupati Parigi Moutong memenuhi permintaan masyarakat untuk tampil bernyanyi bersama di atas panggung hiburan. Penampilan tersebut disambut antusias warga yang memenuhi area festival hingga akhir acara.
Festival Lalampa Toboli Ke-9 tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya kuliner khas daerah, tetapi juga menjadi momentum memperkuat sektor ekonomi kreatif berbasis masyarakat. Melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, Lalampa Toboli diharapkan terus berkembang sebagai ikon kuliner unggulan Sulawesi Tengah yang mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional.














