NasionalReligi

MQK Nasional dan Asia Tenggara 2025 Siap Digelar Perdana Secara Digital

×

MQK Nasional dan Asia Tenggara 2025 Siap Digelar Perdana Secara Digital

Sebarkan artikel ini
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Suyitno. ASET: kemenag.go.id

Kutora.id – Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Suyitno, menegaskan bahwa Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) tingkat Nasional dan Asia Tenggara 2025 di Wajo, Sulawesi Selatan, bukan sekadar perhelatan keilmuan pesantren, tetapi momentum mengangkat digitalisasi dan pemberdayaan pesantren ke level yang lebih tinggi.

Menurutnya, MQK Nasional dan Asia Tenggara 2025 ini akan menjadi tonggak sejarah karena untuk pertama kalinya digelar berbasis digital. “Digitalisasi bukan barang baru bagi kita. Kita sudah lama menerapkannya, termasuk dalam pendidikan pesantren,” kata Suyitno saat memberikan sambutan pada Rakor Pelaksanaan MQK Nasional dan Asia Tenggara di Makassar, Rabu 29 April 2025.

Baca Juga:  Pemkab Parigi Moutong Berkomitmen Mendukung Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah

“Santri sekarang sudah sangat kuat literasi digitalnya. Jangan anggap mereka ketinggalan zaman,” tegasnya.

Dalam konteks digitalisasi, Suyitno menekankan pentingnya tampilan aplikasi digital MQK yang menarik dan fungsional. “Tampilan dashboard harus kekinian, mulai dari registrasi, informasi event, hingga transportasi. Bahkan urusan pendukung seperti pariwisata juga harus masuk ke dalam sistem digital ini,” jelasnya.

Ia juga mendorong agar inovasi-inovasi dalam MQK 2025 diglorifikasi secara masif. “Ini pertama kalinya MQK dilakukan secara digital. Harus kita tampilkan sebagai prestasi besar. Apa saja inovasi kita? Ini harus dikabarkan secara luas,” ujarnya.

Baca Juga:  Olimpiade Paris 2024: Panjat Tebing Indonesia Berpeluang Tambah 2 Tiket Lagi

Untuk menguatkan skala Asia Tenggara, Suyitno mendorong keterlibatan dewan hakim dari luar negeri sebagai bukti reputasi internasional MQK. Namun, ia mengingatkan bahwa seluruh dewan hakim juga harus memiliki kecakapan digital.

“Dewan hakim harus cakap digital. Untuk itu perlu dibuat video tutorial, baik bagi peserta maupun dewan hakim, agar semua memahami sistem yang kita pakai,” lanjutnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa digitalisasi dalam MQKN ini tidak boleh lepas dari konteks pemberdayaan pesantren. “Kita bicara dua hal besar di sini: digitalisasi dan pemberdayaan pesantren. Keduanya harus berjalan beriringan,” pungkasnya.

Baca Juga:  Kemenag Gelar Temu Media Bahas Pedoman Siaran Keagamaan Ramadan 2025

MQK Nasional dan Asia Tenggara dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2025 di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Ini akan menjadi bagian penting dari transformasi pendidikan pesantren di era digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *