KUTORA.ID, PARIGI MOUTONG – Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong menilai keterbatasan ketersediaan darah masih menjadi hambatan utama dalam penanganan persalinan, khususnya pada kasus dengan risiko tinggi. Kondisi ini turut berkontribusi terhadap masih tingginya angka kematian ibu di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Parigi Moutong, Darlin, menyampaikan bahwa selama tahun 2025 tercatat 10 kasus kematian ibu. Sementara itu, pada awal tahun 2026 telah terjadi satu kasus serupa.
“Mayoritas kematian ibu terjadi karena keterlambatan penanganan, salah satunya akibat tidak tersedianya darah saat dibutuhkan,” ungkapnya di Parigi.
Ia menjelaskan bahwa kondisi seperti perdarahan, infeksi, maupun komplikasi kehamilan memerlukan tindakan cepat, termasuk transfusi darah. Namun, keterbatasan stok sering kali membuat penanganan tidak dapat dilakukan secara maksimal.
“Darah tidak seperti obat yang bisa dibeli kapan saja. Walaupun fasilitas kesehatan siap, tanpa adanya pendonor, proses penanganan pasien akan terhambat,” jelas Darlin, Kamis 9 April 2026.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas Kesehatan Parigi Moutong terus memperkuat kolaborasi dengan Palang Merah Indonesia, rumah sakit, puskesmas, serta pemerintah kecamatan guna memperluas jaringan pendonor darah.
Menurutnya, kebutuhan darah setiap tahun di Parigi Moutong mencapai ribuan kantong, namun jumlah yang tersedia saat ini masih jauh dari mencukupi.
“Persediaan yang ada masih sangat terbatas. Oleh karena itu, kami terus mengajak masyarakat untuk berpartisipasi menjadi pendonor aktif,” katanya.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, seperti sosialisasi, kerja sama lintas sektor, hingga pemberian bantuan sembako bagi para pendonor. Namun demikian, kebutuhan darah yang terus meningkat belum sepenuhnya dapat terpenuhi.
Selain keterbatasan jumlah pendonor, fasilitas penyimpanan darah di daerah juga masih terbatas, sehingga belum mampu menampung stok dalam jumlah besar.
Sebagai langkah antisipasi, pihaknya juga menyiapkan daftar relawan pendonor yang dapat dihubungi sewaktu-waktu apabila terjadi kondisi darurat di fasilitas kesehatan.
“Kami berharap kesadaran masyarakat untuk donor darah semakin meningkat, karena hal ini sangat penting dalam menyelamatkan nyawa, khususnya ibu dan bayi,” tutup Darlin.














