KUTORA.ID, PARIGI MOUTONG – Sebanyak 17 sekolah terpencil di Kabupaten Parigi Moutong kini mendapatkan akses listrik melalui pemasangan panel surya (solar panel) dari PLN. Penyediaan listrik tersebut merupakan bagian dari program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk mendukung layanan pendidikan di wilayah pedalaman.
Program ini mengacu pada surat Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah bernomor 1337/C3/DM/00025 tertanggal 2 Juli 2025, tentang pemenuhan akses listrik bagi satuan pendidikan di daerah terpencil.
Kabid Manajemen SD, Ibrahim, mengatakan realisasi program tersebut telah menjangkau belasan sekolah yang sebelumnya belum memiliki layanan listrik memadai.
“Setelah adanya program kemnetria untuk daerah terpencil, 17 Sekolah alhamdulillah sudah memiliki akses listrik,” ungkap Kabid Management SD, Ibrahim, Jum’at (7/2/2026).
Ia merinci, 17 sekolah penerima bantuan terdiri dari 1 TK, 11 SD, dan 5 SMP. Seluruhnya dipasangi listrik berdaya 900 VA menggunakan sistem panel surya oleh PLN, sehingga dapat dimanfaatkan meski berada di wilayah yang belum terhubung jaringan listrik reguler.
Menurutnya, program listrik untuk sekolah terpencil menjadi bagian dari komitmen pemerintah pusat dalam mendukung percepatan revitalisasi dan digitalisasi sekolah, sejalan dengan arahan presiden.
“Bantuan pemerintah telah menjawab tantangan selama ini, dimana sekolah terpencil belum mendapatkan pelayanan listrik, bagaimana kita mau bicara digitalisasi sekolah dan pembelajaran berbasis teknologi,” jelasnya.
Dari sisi pembiayaan, pemasangan kilometer listrik per sekolah dianggarkan sekitar Rp900 ribu. Sumber anggaran dapat berasal dari dana BOS maupun APBD, tergantung kebijakan daerah masing-masing.
“Pemasangan kilometer listrik dianggarkan sekitar Rp 900 ribu, bisa bersumber dari dana BOS maupun APBD. Untuk Parimo, pembiayaan dilakukan melalui APBD, sementara biaya lainnya ditanggung oleh PLN.”
“Rp 900 ribu itu biaya sambung per sekolah. Selebihnya ditanggung PLN,” jelasnya.
Ibrahim menambahkan, pihaknya telah meninjau langsung salah satu sekolah penerima program di Desa Salubanga. Dari hasil peninjauan tersebut, fasilitas listrik sudah terpasang dan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.
Ke depan, program serupa diharapkan dapat terus diperluas agar semakin banyak sekolah di wilayah terpencil memperoleh akses listrik sebagai fondasi penerapan pembelajaran berbasis teknologi.














