PARIGI MOUTONG, KUTORA.ID – Kesiapan sekolah dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran menjadi perhatian Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase, saat melakukan kunjungan kerja ke SMP Satap 2 Mepanga di Desa Maranti, Kecamatan Mepanga, Selasa 13 Oktober 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Erwin memeriksa pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) yang disediakan melalui program digitalisasi sekolah. Peninjauan ini bertujuan memastikan perangkat tersebut digunakan secara efektif untuk mendukung kegiatan belajar mengajar sekaligus mengidentifikasi kebutuhan tambahan yang diperlukan pihak sekolah.
Bupati hadir bersama Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Parigi Moutong, Sunarti, serta Kepala Bidang Manajemen Sekolah Dasar, Ibrahim.
Program penyediaan PID merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan. Melalui perangkat tersebut, guru diharapkan dapat menyampaikan materi dengan metode yang lebih menarik, sedangkan siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih interaktif.
Erwin mengungkapkan, evaluasi secara langsung diperlukan untuk mengetahui manfaat perangkat yang telah diberikan, termasuk bagaimana guru mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran sehari-hari.
“Kami ingin memastikan fasilitas yang diberikan benar-benar digunakan untuk menunjang proses pendidikan. Teknologi ini harus memberikan manfaat bagi guru dalam menyampaikan materi dan membantu siswa memahami pelajaran dengan lebih baik,” ujar Erwin.
Berdasarkan hasil pemantauan, keberadaan PID mendapat tanggapan positif dari siswa dan tenaga pendidik. Penggunaan media digital dinilai membuat pembelajaran lebih menarik serta membantu siswa mengikuti materi yang disampaikan guru.
Meski demikian, pemerintah daerah menilai keberhasilan digitalisasi pendidikan tidak hanya bergantung pada ketersediaan perangkat. Dukungan sarana pendukung, kemampuan pemanfaatan teknologi, serta kondisi lingkungan sekolah juga perlu diperhatikan agar proses pembelajaran tidak terganggu.
Salah satu persoalan yang ditemukan berkaitan dengan perlindungan aset sekolah. Pihak sekolah menyampaikan kekhawatiran terhadap keamanan inventaris karena sejumlah bagian bangunan, termasuk jendela, belum memiliki pengamanan yang memadai seperti teralis.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena perangkat pembelajaran digital merupakan aset yang perlu dijaga agar dapat digunakan secara berkelanjutan. Menanggapi hal itu, Erwin meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengkaji kebutuhan tenaga penjaga sekolah, terutama pada satuan pendidikan yang memiliki banyak peralatan penting.
“Peralatan sekolah harus mendapat perlindungan yang layak. Saya meminta Dinas Pendidikan memperhatikan kebutuhan penjaga sekolah agar inventaris yang tersedia dapat dijaga dan digunakan dalam jangka panjang,” tegasnya.
Selain keamanan, keterbatasan akses internet juga menjadi kendala dalam penggunaan teknologi pembelajaran. Selama ini, guru mengandalkan jaringan Wi-Fi sekolah. Apabila koneksi mengalami gangguan, mereka terpaksa menggunakan hotspot dari telepon seluler pribadi agar kegiatan belajar tetap berlangsung.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan pembelajaran digital perlu dibarengi penyediaan jaringan komunikasi yang stabil. Ketersediaan internet menjadi faktor penting untuk mendukung pemanfaatan berbagai sumber belajar digital, terutama bagi sekolah yang berada di wilayah dengan akses jaringan terbatas.
Erwin menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan terus memperhatikan kebutuhan konektivitas sekolah. Salah satu alternatif yang akan didorong untuk mendukung akses internet di wilayah yang sulit terjangkau jaringan konvensional ialah pemanfaatan teknologi internet satelit.
“Kami akan melihat kebutuhan sekolah dalam penyediaan akses internet. Dukungan jaringan yang lebih stabil sangat diperlukan agar perangkat digital dapat dimanfaatkan secara maksimal, termasuk bagi sekolah yang berada di wilayah dengan keterbatasan konektivitas,” jelasnya.
Program digitalisasi pendidikan melalui penyediaan PID diarahkan untuk memperluas akses pembelajaran berbasis teknologi di Kabupaten Parigi Moutong. Berdasarkan data dalam bahan informasi, pada 2025 bantuan tersebut menyasar 540 sekolah, dengan rincian 425 sekolah dasar dan 115 sekolah menengah pertama.
Bahan informasi yang sama juga mencantumkan 200 satuan pendidikan anak usia dini (PAUD). Angka tersebut masih perlu diklarifikasi kepada instansi terkait karena jumlah SD, SMP, dan PAUD jika dijumlahkan mencapai 740 satuan pendidikan.
Penyediaan perangkat digital diharapkan membantu tenaga pendidik mengembangkan metode pengajaran yang lebih variatif sekaligus meningkatkan ketertarikan siswa terhadap materi pelajaran. Namun, pemanfaatannya perlu disertai pemeliharaan perangkat, keamanan inventaris, dan dukungan internet yang memadai.
Erwin berharap program digitalisasi sekolah mampu memberikan dampak nyata terhadap kualitas pendidikan di Parigi Moutong. Ia juga menginginkan agar para siswa dapat memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memperluas pengetahuan dan meningkatkan kemampuan menghadapi persaingan di masa depan.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar menghadirkan perangkat di sekolah, tetapi memastikan anak-anak memperoleh pengalaman belajar yang lebih baik. Kami berharap fasilitas ini dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh sehingga dapat mendukung peningkatan mutu pendidikan di Parigi Moutong,” tutupnya.
Pemerintah daerah melalui evaluasi tersebut berupaya mengidentifikasi kebutuhan sekolah secara langsung agar pelaksanaan digitalisasi pendidikan berjalan lebih efektif. Perbaikan fasilitas pendukung dan peningkatan pemanfaatan teknologi diharapkan dapat berjalan beriringan demi terciptanya proses pembelajaran yang berkualitas.












