Example floating
Example floating
Parigi Moutong

Bappelitbangda Kaji Penyebab Gagal Panen Durian di Parigi Moutong

×

Bappelitbangda Kaji Penyebab Gagal Panen Durian di Parigi Moutong

Sebarkan artikel ini
ASET: IST

KUTORA.ID, PARIGI MOUTONG – Ancaman menurunnya produksi durian di Kabupaten Parigi Moutong mulai menjadi perhatian pemerintah daerah setelah banyak petani mengeluhkan hasil panen yang jauh dari harapan. Kondisi tersebut mendorong dilakukannya kajian ilmiah untuk mengetahui penyebab utama berkurangnya produksi buah yang selama ini menjadi salah satu komoditas unggulan daerah.

Melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda), Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong kini tengah meneliti fenomena yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan istilah bangkalan. Penelitian dilakukan untuk memastikan faktor penyebab sekaligus menyusun langkah penanganan yang dapat diterapkan kepada petani.

Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Bappelitbangda Parigi Moutong, Mardiana, mengungkapkan hampir seluruh sentra produksi durian mengalami penurunan hasil panen yang signifikan. Bahkan, sebagian petani tidak memperoleh hasil panen sama sekali.

“Hampir di seluruh wilayah penghasil durian di Parigi Moutong mengalami penurunan produksi. Ada petani yang hanya memperoleh hasil sangat sedikit, bahkan sebagian tidak memanen buah sama sekali,” ujar Mardiana, Kamis, 30 Juli 2026.

Baca Juga:  Pemkab Parigi Moutong Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Bersama Pemerintah Pusat

Berdasarkan hasil penelitian sementara, tim peneliti belum menemukan indikasi bahwa fenomena bangkalan dipicu oleh serangan hama ataupun penyakit tanaman. Sebaliknya, penurunan produktivitas lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi lahan yang terus mengalami penurunan kualitas.

“Dari hasil kajian sementara yang kami lakukan, penyebabnya bukan berasal dari serangan penyakit tanaman. Faktor yang paling berpengaruh justru kondisi tanah yang sudah lama dimanfaatkan, ditambah cuaca panas ekstrem dan musim kemarau yang cukup panjang,” katanya.

Menurut Mardiana, penggunaan lahan secara intensif selama bertahun-tahun tanpa diimbangi upaya pemulihan kesuburan tanah menyebabkan unsur hara terus berkurang. Situasi tersebut semakin diperparah oleh perubahan cuaca yang memengaruhi pertumbuhan tanaman.

Baca Juga:  Sekda Zulfinasran Paparkan Potensi Kedelai Parimo di Kemenko Marves

Selain faktor alam, penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus juga diduga mempercepat penurunan kualitas tanah sehingga kemampuan tanaman dalam menghasilkan buah ikut menurun.

“Kandungan nutrisi tanah yang kami teliti rata-rata tinggal sekitar 25 persen. Kondisi ini diduga akibat penggunaan bahan kimia yang berlangsung terus-menerus sehingga struktur tanah mengalami penurunan kualitas. Bahkan ada tanaman yang usianya baru sekitar lima tahun, tetapi sudah tidak mampu menghasilkan buah,” jelasnya.

Sebagai tindak lanjut, Bappelitbangda Parigi Moutong saat ini sedang mengembangkan formula pemupukan baru yang mengombinasikan pupuk organik dengan penggunaan pupuk kimia secara terbatas. Formulasi tersebut dirancang untuk memperbaiki struktur tanah sekaligus mengembalikan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.

Racikan pupuk tersebut masih menjalani serangkaian uji lapangan sebelum nantinya direkomendasikan kepada petani. Pemerintah daerah berharap inovasi itu mampu menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi fenomena bangkalan.

Baca Juga:  Perempuan dan Anak Jadi Fokus, Pemkab Parigi Moutong Tutup Program Bersama WVI

“Kami berharap hasil uji coba ini mulai terlihat pada musim panen tahun depan. Jika formulasi pupuk yang kami susun terbukti efektif mengatasi bangkalan, maka SOP maupun formulanya akan kami ajukan untuk memperoleh perlindungan hak kekayaan intelektual,” ungkap Mardiana.

Saat ini, pengujian difokuskan di Kecamatan Kasimbar dan Desa Beraban, Kecamatan Balinggi. Kedua wilayah tersebut dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki karakteristik lahan yang mewakili sentra produksi durian di Kabupaten Parigi Moutong sehingga memudahkan proses pemantauan perkembangan penelitian.

Apabila hasil uji coba menunjukkan perkembangan yang positif, formulasi pupuk tersebut akan diterapkan secara bertahap di seluruh kawasan penghasil durian di Parigi Moutong. Pemerintah daerah berharap inovasi tersebut mampu mengembalikan produktivitas kebun, meningkatkan pendapatan petani, serta menjaga keberlanjutan komoditas durian sebagai salah satu unggulan daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *