Example floating
Example floating
BirokrasiKesehatanParigi Moutong

Dinkes Parimo Kerahkan 160 Mahasiswa Untad Kaji Kendala SPM Kesehatan

×

Dinkes Parimo Kerahkan 160 Mahasiswa Untad Kaji Kendala SPM Kesehatan

Sebarkan artikel ini
Dinkes Parimo Kerahkan 160 Mahasiswa Untad Kaji Kendala SPM Kesehatan. ASET: Istimewa.

PARIGI MOUTONG, KUTORA.ID – Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, akan mengerahkan sekitar 160 mahasiswa Universitas Tadulako (Untad) untuk mengkaji berbagai kendala yang menyebabkan capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan di sejumlah wilayah belum mencapai target 100 persen.

Para mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Untad tersebut direncanakan turun langsung ke wilayah kerja sejumlah puskesmas di Kabupaten Parigi Moutong pada Oktober 2026. Mereka akan dibagi dalam 27 tim untuk melakukan penelitian sekaligus mengidentifikasi persoalan pelayanan kesehatan di lapangan.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong Darlin mengatakan, keterlibatan mahasiswa Untad diharapkan dapat membantu pemerintah daerah menemukan akar persoalan yang membuat sejumlah indikator SPM kesehatan belum mencapai target.

“Standar capaian pelayanan yang ditargetkan harus mencapai 100 persen. Namun, berdasarkan kondisi di lapangan, masih terdapat sejumlah indikator yang belum mencapai target tersebut,” ujar Darlin, ditemui di ruang kerjanya, Selasa 8 September 2026.

Menurut Darlin, penelitian tersebut menjadi bagian dari upaya Dinas Kesehatan memahami persoalan secara lebih mendalam, terutama karena pemenuhan SPM mencakup 12 indikator bidang kesehatan yang memiliki tantangan berbeda di setiap wilayah.

Baca Juga:  Bupati Parigi Moutong Lantik 132 Kepala Sekolah, Perkuat Kepemimpinan Pendidikan di Awal 2026

“Perlu kerja sama dengan akademisi untuk meriset melalui mahasiswa-mahasiswa mereka, supaya kita tahu apa akar atau pokok masalah yang menyebabkan capaian kita tidak sampai pada standar 100 persen,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa akan ditempatkan di empat wilayah kerja puskesmas, yakni Puskesmas Siniu, Puskesmas Ampibabo, Puskesmas Sienjo, dan Puskesmas Kasimbar.

Darlin menjelaskan, penentuan wilayah tersebut mempertimbangkan kondisi jangkauan pelayanan serta angka capaian sejumlah indikator kesehatan di masing-masing wilayah.

“Seperti pada indikator Kesehatan Ibu dan Anak juga stunting, wilayah ini menjadi perhatian kami,” kata Darlin.

Ia berharap hasil penelitian mahasiswa tidak berhenti pada pemetaan persoalan, tetapi dapat menghasilkan rekomendasi yang bisa membantu Dinas Kesehatan memperbaiki pelayanan sekaligus meningkatkan capaian SPM.

“Kita berharap mereka bisa memberikan solusi dan mendukung kami dari sisi beberapa tantangan yang telah dipaparkan. Mungkin dari persoalan-persoalan itu mereka bisa memberikan solusi lewat inovasi,” katanya.

Baca Juga:  Kawasan RSUD Anuntaloko Dibangun Lebih Tertib, Pedagang Diajak Musyawarah

Menurut Darlin, kerja sama dengan Untad tersebut bukan merupakan pertemuan pertama. Sebelumnya, Dinas Kesehatan dan pihak Untad telah melakukan pembahasan serta kunjungan terkait rencana kegiatan lapangan mahasiswa.

Keterlibatan mahasiswa juga dinilai strategis karena mereka berasal dari berbagai disiplin ilmu kesehatan. Bidang yang akan terlibat antara lain promosi kesehatan, gizi, kesehatan ibu dan anak (KIA), serta bidang kesehatan lainnya.

“Kalau mahasiswa dengan berbagai jurusan turun, ada promkes, ada gizi, ada KIA, mereka multidimensi. Kami sangat mengapresiasi karena yang turun tidak hanya satu jurusan. Sehingga ada inovasi-inovasi dengan berbagai jurusan turun dalam satu tim,” jelasnya.

Darlin mengatakan pendekatan multidisiplin tersebut memungkinkan mahasiswa melihat persoalan kesehatan dari berbagai sudut pandang. Kegiatan lapangan juga tidak sekadar mengikuti pola praktik biasa, tetapi diarahkan untuk membaca situasi masyarakat dan menemukan persoalan sesuai bidang keilmuan masing-masing.

Baca Juga:  Bupati Erwin Burase Ajak Warga Jaga Kamtibmas dan Waspada Karhutla Saat Ramadan

Selain penelitian oleh mahasiswa, Dinas Kesehatan juga menekankan pentingnya dukungan lintas sektor dalam meningkatkan capaian pelayanan kesehatan. Pemerintah kecamatan, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan masyarakat dinilai memiliki peran penting dalam mendukung upaya tersebut.

“Persoalan kesehatan terutama tidak bisa kami selesaikan sendiri. Pemerintah kecamatan dan pemerintah desa memang tidak terlepas, kita gandeng. Karena persoalan kesehatan ini sangat kompleks,” tandasnya.

Menurut Darlin, tantangan kesehatan akan terus berkembang sehingga pola pelayanan kepada masyarakat harus mampu menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi yang ada.

“Pelayanan kepada masyarakat tidak harus monoton begitu saja, tetapi harus menyesuaikan dengan perkembangan,” pungkasnya.

Melalui pelibatan 160 mahasiswa Untad serta penguatan kerja sama lintas sektor, Dinas Kesehatan Parigi Moutong berharap kendala pencapaian SPM kesehatan dapat terpetakan dengan lebih baik dan menghasilkan solusi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *