Example floating
Example floating
Parigi MoutongPendidikanTeknologi

PGRI Parigi Moutong Diminta Rumuskan Strategi Cegah Narkoba di Kalangan Pelajar

×

PGRI Parigi Moutong Diminta Rumuskan Strategi Cegah Narkoba di Kalangan Pelajar

Sebarkan artikel ini
Bupati Parigi Moutong Erwin Burase dan Ketua DPRD Alfres Tonggiroh saat hadir pada Konkerkab I PGRI Kabupaten Parigi Moutong masa bakti 2025–2030 di Hotel Ludya, Sabtu (5/9/2026). ASET: Aldryanto.

PARIGI MOUTONG, KUTORA.ID Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Parigi Moutong diminta merumuskan strategi konkret untuk mencegah penyalahgunaan dan peredaran narkoba di kalangan pelajar. Peran guru dan sekolah dinilai penting dalam memperkuat pencegahan sejak dini sekaligus melindungi generasi muda dari ancaman narkoba.

Permintaan tersebut disampaikan Bupati Parigi Moutong Erwin Burase saat membuka Konferensi Kerja Kabupaten (Konkerkab) I PGRI Kabupaten Parigi Moutong masa bakti 2025–2030 di Hotel Ludya, Sabtu (5/9/2026).

Menurut Erwin, persoalan narkoba perlu menjadi perhatian serius dalam agenda organisasi PGRI. Ia berharap forum Konkerkab tidak hanya membahas konsolidasi dan program internal organisasi, tetapi juga menghasilkan rekomendasi yang dapat menjadi bahan kolaborasi dengan pemerintah daerah.

“Ini sangat penting. Coba dirumuskan poin-poin dan langkah penting yang disampaikan kepada kami pemerintah daerah untuk kita bicarakan bersama,” kata Erwin.

Erwin menilai sekolah memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran peserta didik sekaligus mencegah mereka terpengaruh penyalahgunaan narkoba. Karena itu, guru didorong untuk tidak hanya berfokus pada proses pembelajaran, tetapi juga memperkuat pendidikan karakter dan perhatian terhadap lingkungan pergaulan siswa.

Baca Juga:  Bupati Erwin: Pemuda Parigi Moutong Harus Jadi Penentu Sejarah, Bukan Pelengkapnya

Ancaman narkoba, kata Erwin, tidak hanya berkaitan dengan persoalan hukum. Penyalahgunaan narkoba juga dapat berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia dan masa depan generasi muda.

Ia bahkan menyinggung adanya informasi mengenai keterlibatan anak-anak sebagai kurir narkoba. Kondisi tersebut dinilai menjadi peringatan bagi seluruh pihak untuk meningkatkan pengawasan dan memperkuat langkah pencegahan.

“Ini tentu berbahaya, bisa mengganggu kualitas dan tentunya merusak generasi muda, khususnya kita di Parigi Moutong,” ujarnya.

Menurut Erwin, upaya pencegahan membutuhkan keterlibatan bersama antara guru, orang tua, pemerintah, tokoh masyarakat, serta pihak terkait lainnya. Lingkungan sekolah juga perlu menjadi ruang yang aman bagi peserta didik untuk mendapatkan pendampingan dan menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.

Selain persoalan narkoba, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga menjadi tantangan yang perlu direspons PGRI dan para guru.

Erwin meminta guru terus meningkatkan kemampuan dalam memahami perkembangan teknologi agar dapat menyesuaikan diri dengan pola belajar generasi saat ini.

“Guru-guru kita juga harus selalu berinteraksi dengan teknologi agar kita nanti tidak tertinggal dengan anak-anak kita,” katanya.

Baca Juga:  Semarak Malam Iduladha, Bupati Parigi Moutong Lepas Pawai Takbiran 1447 H

Menurutnya, teknologi dan berbagai platform berbasis AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran. Namun, penggunaan gawai serta paparan konten digital juga perlu mendapat pengawasan agar tidak memberikan dampak negatif terhadap perkembangan peserta didik.

Dalam kesempatan tersebut, Erwin juga menyampaikan perkembangan program digitalisasi pendidikan di Kabupaten Parigi Moutong. Pada awalnya, daerah tersebut hanya memperoleh alokasi program untuk tujuh sekolah.

Pemkab Parigi Moutong kemudian melakukan komunikasi dengan pemerintah pusat agar jumlah sekolah penerima dukungan dapat ditambah. Hasilnya, jumlah sekolah yang mendapatkan dukungan digitalisasi meningkat hingga mencapai 97 sekolah.

Program tersebut dinilai penting untuk mendukung pemerataan pendidikan, mengingat wilayah Parigi Moutong cukup luas dan masih terdapat sekolah yang berada di daerah terpencil dengan akses yang relatif sulit.

“Kita akan terus perhatikan dan tingkatkan lagi sehingga pendidikan di Parigi Moutong ini benar-benar diperhatikan,” ujarnya.

Perhatian terhadap pemerataan pendidikan juga mencakup guru yang bertugas di wilayah terpencil. Pemerintah daerah menyiapkan dukungan berupa fasilitas tempat tinggal, sarana penunjang kedinasan, hingga peningkatan insentif bagi guru yang mengabdi di daerah terpencil.

Baca Juga:  Audiensi dengan BPKP, Pemkab Parigi Moutong Fokus Perbaikan Tata Kelola Keuangan

“Fasilitas guru kita di daerah terpencil tentu harus diperhatikan. Ini sudah beberapa kali saya bicarakan bersama para guru,” katanya.

Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu guru menjalankan tugas secara optimal sekaligus meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan di wilayah Parigi Moutong.

Erwin menegaskan PGRI memiliki posisi strategis sebagai organisasi profesi dalam pengembangan kompetensi dan peningkatan kesejahteraan guru serta tenaga kependidikan.

Karena itu, PGRI Kabupaten Parigi Moutong didorong menjadi mitra strategis pemerintah daerah, termasuk dalam merumuskan langkah-langkah pencegahan narkoba di lingkungan sekolah.

Ia juga mendorong PGRI untuk membangun kolaborasi dan bertukar pengalaman dengan daerah lain, termasuk Pemerintah Kota Palu, dalam menghadapi persoalan pendidikan dan upaya menekan peredaran narkoba di lingkungan sekolah.

“Terutama masalah narkoba, ini semua sama. Tentu kita harus rumuskan bersama strategi-strategi di daerah lain dalam menekan angka peredaran narkoba, khususnya di sekolah-sekolah,” ujarnya.

Konkerkab I PGRI Kabupaten Parigi Moutong masa bakti 2025–2030 diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi konkret yang tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kompetensi guru, tetapi juga perlindungan peserta didik dari berbagai ancaman yang dapat mengganggu masa depan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *